Friday, 29 March 2019




Apakah Anda mengalami nyeri pada lengan bawah yang tak tertahankan? Ketika mengangkat lengan ke atas terasa lemas dan nyeri, meluruskan siku nyeri? Dan membawa barang nyeri pada lengan? Keluhan memberat di malam hari?

Tanda-tanda ini merupakan bagian dari gejala yang dicurigai sebagai epindylitis lateralis atau yang dikenal dengan syndroma tennis elbow. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor yang sebagian besar membuat peregangan dan tension berlebihan pada tendon yang berorigo di epycondilus lateral dari sendi elbow.

Aktivitas yang menggunakan lengan secara berlebih /overload/overuse membuat iritasi pada tendon m.extensor carpi radialis brevis dan m. Extensor carpi radialis longus.

Tennis elbow memiliki 4 tipe perlekatan tendon dimana nyeri pada tendon ini dapat ditemukan dari palpasi secara khusus yaitu tipe 1 tendon extensor carpi radialis longus, tipe 2 tendon extensor carpi radialis yang melekat tepat pada epycondilus lateral, tipe 3 tendon extensor carpi radialis brevis muscular junction, dan tipe 4 badan dari otot m.extensor carpi radialis brevis. Pada umumnya cidera pada tendon extensor lebih banyak pada pemain badminton, tennis, dan bisball.


Diperlukan pemeriksaan khusus yaitu palpasi untuk menentukan jaringan tendon tipe brapa yang mengalami permasalahan.
 Tanda dan gejala dari keluhan ini yaitu
1. Nyeri pegal pada sisi luar siku hingga lengan bawah.
2. Terkadang disertai pembengkakan pada otot sisi luar siku.
3. Kelemahan otot lengan dalam beraktivitas seperti mengangkat lengan ke atas, mengangkat barang, membawa tas, dan memegang gelas.
4.  Rasa nyeri yang berdenyut. Nyeri ini biasanya dirasakan pada cidera akut epycondilus.
5. Nyeri memberat

Adapun keluhan nyeri lengan bawah pada klien dapat diperiksa langsung oleh fisioterapist. Apa saja langkah2 pemeriksaan fisioterapist tersebut?
1. Anamnessis
Saat Anda masuk ke ruang pemeriksaan fisioterapi, fisioterapist akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, Fisioterapist akan menilai cara kedatangan Anda apakah dengan alat bantu? Memakai Brace siku? Cara jalan Anda, dan postur. Setelah Anda duduk, fisioterapist akan menanyakan identitas Anda, keluhan utama, riwayat keluhan saat ini, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, apakah ada riwayat penggunaan obat, apakah ada alergi, apakah Anda sudah berobat ke dokter, apakah ada catatan medis berupa bukti rontgen, dan bagaimana aktivitas keseharian Anda. Tujuan pertanyaan yang diarahkan untuk mencari dan mengetahui informasi yang berhubungan dengan keluhan yang Anda alami dan menghubungkan klausal yang ada dari pernyataan yang Anda kemukakan.

2. Pemeriksaan umum
Setelah mengetahui riwayat Anda, selanjutnya dilakukan pemeriksaan tanda vital Anda yaitu seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, temperatur, tinggi badan, dan berat badan.

3. Segi fisioterapi
Pada bagian ini fisioterapi akan melakukan inspeksi/ review postur Anda pada saat berdiri, berjalan, duduk, dan melakukan gerakan dasar dari bagian tubuh yang mengalami problema. Setelah itu fisioterapist akan memberikan skala ukur nyeri saat Anda melakukan gerakan dan dari skala ukur tersebut dapat menentukan seberapa besar nyeri yang Anda rasakan.

4. Pengukuran fisioterapi
Selanjutnya akan dilakukan pengukuran nilai kekuatan otot, lingkar bagian tubuh yang mengalami keluhan apakah mengalami pembengkakan atau pengecilan masa otot, dan lingkut gerak sendi.

5. Pemeriksaan gerak fisioterapi
Selanjutnya kualitas gerak Anda akan ditelaah berdasarkan gerak aktif, gerak pasif, isometrik, dan fungsional test. Kemudian untuk memastikan patologi selanjutnya dilakukan test khusus fisioterapi.

6. Diagnosa fisioterapi
Setelah menentukan hasil dari pemeriksaan, pengukuran, dan sebagainya maka akan ditentukan diagnosa fisioterapi yang dibagi ke dalam impairment/kelemahan, functional limitation/keterbatasan gerak, dan participant limitattion/ keterbatasan partisipasi dalam hobby atau kegiatan club.

7. Penentuan perencaan goal fisioterapi
Selanjutnya ditentukan perencanaan jangka pendek dan jangka panjak berdasarkan temuan dari hasil pemeriksaan. Tujuan dibuat perencanaan ini untuk fokus target bagi setiap bagian perbaikan dari klausal dan element yang ditemukan dalam pemeriksaan yang berhubungan dengan patologi terkait dalam jangka waktu terapi yang ditentukan. Disini juga akan dijelaskan berapa lama atau berapa kali fisioterapi untuk target penyembuhan yang akan terjadi dalam sesi fisioterapi.

8. Treatment fisioterapi
Setelah menentukan rencana maka fisioterapist akan memberikan form persetujuan klien atas tindakan treatment fisioterapi yang akan diberikan. Treatment yang diberikan berupa modalitas alat, manual terapi, exercise, dan sebagainya sesuai dengan temuan problema dalam kasus.

9. Evaluasi
Fisioterapist akan memberikan evaluasi dengan pengukuran fisioterapi untuk menilai kemajuan dari hasil treatment yang diberikan. Fisioterapist juga akan memberikan anjuran untuk home progran di rumah.

Prosedur layanan tindakan fisioterapi ini sudah mencakup keseluruhan rangkaian proses yang yang simultan. Diharapkan terjadi penyembuhan yang signifikan dari treatment dan evaluasi yang dilakukan oleh fisioterapist.

Begitu pula pada keluhan epycondilitis lateralis dimana pemeriksaan yang detail dapat menentukan arah penyembuhan yang tepat dalam jangka sesi fisioterapi yang diberikan. Klien juga diajak untuk kooperatif dengan fisioterapist agar terjadi kesembuhan yang maksimal.

Tennis elbow/ epycondilitis lateralis biasanya dapat pulih dalam sesi fisioterapi selama 3 kali seminggu selama 2 minggu atau 1 bulan treatment tergantung akut atau kronis dan derajat dari inflammasi tendon lateralis tersebut.

Baiklah, apakah Anda sudah berencana untuk memilih fisioterapi sebagai partner bagi kesembuhan nyeri pada lengan bawah yang Anda alami saat ini?



Friday, 7 September 2018

Konsep Rehabilitasi

Healing Constraints

Faktor terpenting dalam mempertimbangkan rancangan program rehabilitasi yaitu faktor penyembuhan secara fisiologis.

Berikut perbedaan waktu penyembuhan cidera dari berbagai jaringan



Secara umum, perbedaan jenis jaringan dan kekuatan jaringan berkurang setelah cidera, tetapi seiring waktu berlalu dan dimana proses penyembuhan terjadi, kekuatan jaringan akan meningkat. Status usia, kesehatan dan nutrisi atlet serta besarnya cidera adalah faktor-faktor yang berpengaruh dalam cepatnya penyembuhan fisiologis dan  program rehabilitasi harus terstruktur.

Jaringan konektif, yang memiliki berbagai bentuk atau berbagai jaringan lainnya, dideskripsikan oleh Hooke's law dan kurva stress-strain pada gambar berikut.

                                               
Komposisi spesifik dan pengaturan serat jaringan penghubung menentukan reaksi jaringan terhadap stres. Contohnya, peregangan ligament relatif lebih besar daripada tendon pada besarnya tekanan cidera yang sama. Peregangan Ligament lebih besar karena lebih irregular atau  banyak arah pengaturan pada serabut collagennya dibandingkan dengan tendon dimana tendon lebih resisten terhadap tekanan.

Pada grafik kurva stress-strain berikut ini menjelaskan bagaimana efek stress pada jaringan penghubung.


Pada gambar di atas menggambarkan kurva sinusoidal dengan area spesifik mencakup  toe, elastic region, plastic region, dan point of failure. Toe area lebih regang pada jaringan penghubung hingga batas titik regangnya. Elastic point dimulai saat jaringan meregang melampaui batas 2% panjang regangnya. Dalam elastic region, jaringan kembali ke panjang regangan awalnya. Pemanjangan permanen terjadi pada derajat dimana jaringan kembali pada panjang istirahatnya skitar 4% yang dikenal sebagai plastic region. Pemanjangan permanent dihasilkan dari gangguan nyari beberapa tetapi tidak semua serabut collagen ada dalam jaringan penghubung. Akhirnya, titik kegagalan jaringan penghubung dihasilkan dari regangan melampaui batas 6% sampai 10 % panjang jaringan istirahatnya. Demikian pula, berlebihnya penerapan stress p[ada jaringan dapat menimbulkan kegagalan pada jaringan itu sendiri. Rehabilitasi harus mengakomodasi rentannya penyembuhan jaringan karena kemampuannya menahan tekanan stress dikompromikan lebih awal dalam rehabilitasi.


sumber gambar dari buku
 to be continue....

untuk memaksimalkan pengetahuan, maka artikel ini diupdate pendek per artikel...









Dasar Teori Respon Tubuh terhadap Cidera

Cidera dapat menimbulkan problem seperti bengkak, nyeri, dan spasme otot. Nyeri dan bengkak merupakan sinyal bagi spesialis rehabilitasi dan atlet bahwa telah terjadi tanda kerusakan jaringan yang mendasari keputusan klinis dalam mempertimbangkan rehabilitasi exericse yang akan diberikan kepada atlet terkait dengan problem cidera yang dialaminya. Problema yang timbul pada cidera seperti bengkak, nyeri, dan spasme otot dapat menghambat terapi latihan.

 Aktivitas Reseptor Afferent Perifer

Nyeri dapat bersifat akut, kronik, dan persisten.
Nyeri akut terjadi setelah cidera dan terjadi dalam durasi singkat ( beberapa hari). Nyeri akut merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang salah.
Nyeri kronik terjadi setidaknya kurang lebih 6 bulan, hilang timbul, dan resisten terhadap intervensi atau treatment. Nyeri kronik menjadi panjang setelah cidera awal sembuh sebagai akibat dari perubahan biomekanik atau kebiasaan tubuh bersikap dalam mempertahankan bagian tubuh untuk mengindari nyeri. orang yang mengalami nyeri kronik biasanya akan merasakan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan nyeri itu sendiri.
Nyeri persisten berbeda dengan nyeri kronik, secara umum nyeri persisten terjadi sebagai respon dari treatment yang berkepanjangan melebihi waktu dimana terjadi beberapa kondisi yang varibel dan adanya perubahan interpretasi seseorang terhadap nyeri itu sendiri, artinya nyeri yang ada pada dirinya sudah melewati ambang batas. Tipe nyei persisten ini dapat merubah komponen kebiasaan kognitif pada otak yang dimana dibutuhkan penanganan psikolog untuk mengatasi nyeri seperti ini.

Mengontrol edema  (yang terjadi pada jaringan lunak di luar sendi) dan mencegah terjadinya efusi ( cairan berlebih di dalam sendi) merupakan proses rehabilitasi yang kritis untuk berbagai alasan. Edema dapat meningkatkan tekanan lokal pada jaringan dimana terjadinya kompresi saraf sensoris ending dan berperan dalam sensasi nyeri. Efusi sendi meningkatkan tekanan intraartikular dan aktifitas saraf afferent yang berperan dalam inhibisi otot. Faktanya, bahwa kecilnya peningkatakn cairan pada sendi (sekitar 10mL) dapat menghasilkan 50% sampai 60% penurunan kontraksi maksimum otot quadriceps.

Modalitas elektro terapi merupakan insturment untuk mengontrol dan mengurangi respon cidera berupa nyeri, bengkak, dan spasme otot, dimana atlet dapat memulai terapi latihan awal seperti latihan ROM (range of motion) dan latihan penguatan otot untuk mencegah imobilisasi dan disuse. Modalitas terapi membantu tubuh mengurangi respon terjadinya inflammasi tetapi sedikit mengganggu proses penyembuhan jaringan. Oleh karena itu, penggunakan modalitas elektro terapi harus dipilih yang  intensitasnya rendah, seperti ultrasound dengan dosis intensitas rendah dapat memfasilitasi proses penyembuhan saat diaplikasikan selama fase granulasi healing proses. Hanya dengan terapi latihan menggunakan dosis yang tepat dapat mengembalikan pemulihan cidera awal untuk beradaptasi dengan aktivitas fisik atlet.

Latihan pada fase rehabilitasi awal mengurangi efek yang merugikan seperti diuse atau imbolisasi. Atlet dapat meningkatkan kondisi fisiknya dengan training , namun training itu segera membalikkan keadaannya ketika aktivitas berhenti atau berkurang, dengan efek nyeri menjadi jelas dalam waktu singkat seperti beberapa hari. Sayangnya, kondisi tubuh karena cidera berbalik lebih cepat daripada kondisi perbaikan.  Sebagai contoh, seseorang yang tidak terlatih, dapat meningkatkan kondisi cardiovascularnya 1% per hari dengan training, tetapi laju pembalikkan kondisi lebih besar yaitu 3% sampai 7% jika mereka menjadi tidak aktif. Oleh karena itu, atlet yang masa inaktivitasnya lama akan lama juga mengembalikan level preinjury fitnessnya.

kesimpulan: Mengurangi atau menghilangkan nyeri, bengkak, dan efusi sendi secepatnya. Sumber aktivitas saraf afferent menghasilkan refleks inhibisi yang berhubungan dengan otot dimana dapat menjadi penghambat proses rehabilitasi.




sumber gambar pencarian google
sumber artikel buku (hubungi untuk mengetahui buku yang dimaksud)

to be continue...










Tuesday, 4 September 2018

Part 1 - prinsip pemeriksaan

Rehabilitasi merupakan bagian konseptual yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu kondisi pemulihan pada fungsi fisik tubuh. Rehabilitasi fisik berkaitan dengan pemulihan kondisi fisik karena cidera atau disfungsi pada bagian tubuh tertentu.
Proses rehabilitasi fisik melibatkan berbagai profesi kesehatan yang dimana memiliki kemampuan medis masing-masing secara spesifik untuk menangani cidera pada atlet melewati perkembangan masa pemulihannya. Profesi medis yang berhubungan yaitu dokter, fisioterapi, pelatih atlet, nutrisionist, perawat, strength and conditioning specialist, coach, clergy, dan psikologis.

Sebelum memulai program rehabilitasi cidera pada atlet, wajib dimulai dengan melakukan pemeriksaan fisik yang lengkap. Pemeriksaan fisik yang dilakukan sebaiknya juga keluar dari pemeriksaan yang secara umum dan spesifik untuk memastikan apakah ada temuan kondisi patologis lain dan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kondisi fisik atlet. Keputusan klinis yang ditegakkan sangat berpengaruh terhadap informasi yang dibutuhkan guna memberikan program rehabilitasi yang tepat pada pemulihan cidera pada atlet.

Pemeriksaan fisik yang spesifik dan menyeluruh yaitu pada kualitas lingkup gerak sendi, fleksibilitas otot, kekuatan otot, proprioception, postur, dan ambulasi dan pola gerak dalam berjalan, sebagai tambahan kriteria pemeriksaan yang spesifik dan akan menghubungkan berbagai problem yang berkaitan. Temuan pemeriksaan fisik dapat menghasilkan berbagai problem pada area tubuh lain yang dialami atlet paska cidera.

Rehabilitasi efektif terjadi ketika tenaga medis profesional melakukan koordinasi baik secara tertulis dan lisan dalam bentuk dokumentasi yang lengkap. Selain itu penelitian hasil medical record akan menjadi gambaran yang akurat pada kondisi atlet. Selanjutnya pastikan dokumentasi kondisi atlet sesuai dengan pemeriksaan dan secara berkala rekam kembali setiap perubahan status yang terekam. Hal ini sangat membantu tenaga medis lain dalam membutuhkan informasi sebagai dasar pertimbangan proses rehabilitasi atlet selanjutnya.

Berikut fondasi program rehabilitasi yang merupakan kunci dalam komponen pemeriksaan fisik
1. Riwayat
2. Pemeriksaan spesifik
a. Neurologi: sensasi lewat pemeriksaan dermatom, kekuatan melalui pemeriksaan myotome dan refleks
b. Muskuloskeletal: lingkup gerak sendi/kelenturan, strength,koordinasi,agility, tes khusus, dan tes performa fungsional.
c. Cardiopulmonal: laju respirasi, heart rate, pemeriksaan sirkulasi darah
d. Integumen: kondisi kulit, warna, dan temperatur
3. Assessment
a. List problem : goal jangka pendek (1-2 minggu) , goal jangka panjang (fungsional goal) dan rehabilitasi potensial
4. Rencana
a. Intervensi spesifik dan frekuensi dan durasi treatment
b. Mengurangi nyeri
c. Mengurangi proses inflamasi pada trauma
d. Mengembalikan aktivitas full dan bebas nyeri ROM
e. Mengurangi efusi
f. Mengembalikan kekuatan, endurance, dan power otot menyeluruh
g. Mengembalikan aktivitas fungsional bebas dari gejala seperti pada cidera awal.


Gambar di atas adalah respon tubuh dalam menghadapi cidera, dimana menjadi acuan program dalam rehabilitasi pasca cidera. Program rehabilitasi fisik baik secara konservatif atau post operasi sangat diperlukan bagi pemulihan fisik pada atlet untuk kembali berkompetisi tanpa mengganggu proses healing pada cidera yang dialami. Setidaknya ada dua goal pada program rehabilitasi yaitu menghindari dan mencegah terjadi imobilisasi atau disuse akibat cidera dengan mempercepat proses penyembuhan luka dan menghindari tekanan berlebih pada jaringan lunak lain. Jika program rehabilitasi tidak dilakukan secara penuh maka resiko atlet mengalami cidera ulang akan terjadi. Oleh karena itu persiapan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh sangat penting dilakukan sebelum memulai program rehabilitasi pada atlet yang cidera.





Sunday, 2 September 2018




Aktivitas duduk adalah gerak rutin yang dilakukan oleh kita sebagai manusia dimana manusia adalah makhluk yang bergerak dan hidup. Duduk merupakan salah satu bagian dari aktivitas fungsional. Beberapa komponen otot tubuh saling bekerja secara sinergis dalam posisi duduk.


Tulang belakang dan panggul merupakan bagian penting dalam postur duduk. Tulang belakang bagian atas menghubungkan kepala dan kedua lengan sedangkan bagian bawah menghubungkan panggul dan kedua tungkai. Postur tubuh manusia terdiri atas 3 bagian penting secara umum yaitu kepala, extremitas, dan tulang belakang. Keseluruhan komponen ini harus bekerja secara sinergis untuk menghasilkan postur balance yang baik dan tepat.


Panggul bagaikan sebuah kapal yang menopang tulang belakang dimana kedua tungkai ikut bekerja menggerakan panggul dengan gerakan memutar, menekuk, dan geser. Sendi panggul merupakan bagian penting dalam postur tubuh dimana keseimbangan kinerja dari otot dasar panggul, bokong, dan tungkai bawah berpengaruh terhadap kualitas pergerakan sendi dan postur tubuh.


Nah, apabila terjadi ketidakseimbangan gerak pada panggul akan mempengaruhi postur dan pergerakan tubuh. Apa saja hal yang mengganggu ketidakseimbangan pada panggul dan postur?
1. Perbedaan panjang tungkai
Jika panjang tungkai bawah atau kedua kaki tidak seimbang maka akan terjadi perubahan ketinggian pada panggul dan tulang belakang ikut miring, otot-otot postur menjadi tidak seimbang dan terjadi perubahan bentuk postur seperti scoliosis.
2. Cidera pada tungkai bawah
Cidera menjadi penyumbang gangguan gerak pada panggul seperti cidera pada lutut, ankle, atau paha. Kenapa bisa mengganggu gerak panggul? Adanya nyeri menimbulkan gangguan pola gerak berjalan yang menjadikan gerak berjalan seperti pincang atau antalgic gait yang mempengaruhi panggul sehingga terjadi penguncian pada sendi panggul dan ketegangan otot-otot postur yang mempengaruhi postur.
3. Kualitas duduk
Aktivitas duduk dapat mempangaruhi panggul dan tulang belakang. Akan dibahas lebih lanjut.
4. Nyeri pada pinggang
Sudah sering dibahas pada artikel kami. Dimana nyeri pinggang akan menyebabkan ketidakseimbangan otot postur tubuh.
5.  Keadaan neurologis
Dimana penyakit yang menyerang sistem saraf dan otak akan menyebabkan gangguan pada tubuh dan postur seperti stroke, parkinson, dll.


Sehari-hari kita beraktivitas baik bekerja, sekolah, kuliah, menghadiri seminar, bepergian dengan bis, kereta, pesawat, san kapal sudah pasti duduk. Manusia dapat duduk dengan tanpa lelah hanya maksimal 3-4 jam saja atau bahkan bisa kurang dari itu jika seseorang mengalami nyeri pinggang, bokong, dan panggul.

Biasanya kita duduk cenderung dengan postur tubuh yang membungkuk. Duduk pada otot bokong sehingga terjadi penekanan pada area sirkulasi otot bokong  seperti salah satunya otot piriformis dimana otot ini dilalui oleh saraf ischiadicus (merupakan saraf besar yang keluar dari percabangan tulang belakang). Biasanya sering terjadi penekanan berulang pada otot piriformis ini. Akibatnya sirkulasi terganggu dan terjadi iritasi dan penekanan pada saraf ischiadicus. Biasanya kaum pria senang menarug dompet di saku belakang celananya, ini juga menjadi bagian penyebab penekanan otot piriformis.


Duduk dengan postur membungkuk sangatlah tidak baik. Kita cenderung melakukannya tanpa sadar karena duduk dengan postur tegak sungguh melelahkan. Apakah benar manusia dapat duduk tegak sempurna seharian penuh? Jawabannya tentu saja tidak bisa.


Duduk tegak sempurna selama seharian sangat mustahil dilakukan manusia. Kecuali jika dia belajar bersikap seperti keluarga bangsawan dan tentara militer yang wajib tegak 24 jam. Tetapi kenyataan sesungguhnya manusia awam sulit duduk tegak sempurna. Ada kalanya ketika sudah duduk tegak selama 2 jam otot-otot di bagian punggung sudah sangat lelah. Kenapa demikian?


Kita duduk tegak dengan menegakkan punggung memang duduk akan terlihat tegak. Tetapi tahukah Anda bahwa otot-otot punggung kita paksa untuk tegak, seberapa lama sih otot punggung dapat menahan tulang belakang terlihat tegak? Begitulah jika kita berusaha untuk duduk tegak tetapi malah mudah merasa kelelahan dan punggung terasa berat bagaikan menopang batu dimana panggul berotasi terlalu ke depan dan pinggang terlihat lebih cekung yang menyebabkan nyeri pada pinggang, kemudian kita kembali duduk membungkuk karena merasa lebih ringan.
Problema ini pasti selalu kita alami. Mau duduk tegak tetapi sudah kelelahan setelah 2 jam atau bahkan kurang dari 2 jam. 

Well, duduk membungkuk tentu tidak baik. Duduk membungkuk dapat menyebabkan postur bungkuk udang. Jika dilakukan berulang dan setiap hari selama berjam-jam lamanya maka akan terjadi locking movement atau penguncian sendi pada tulang belakang thoracal ( tulang punggung atas). Tulang thoracal yang sering mengalami penguncian biasanya di Th4-Th6. Tentu saja puncak thoracal yang tadinya di sudut Th4 menjadi Th6 atau Th7. Bahkan kurva thoracal meningkat lebih dari 40 derajat. ( kurva setiap orang untuk thoracal berbeda-beda, jika lebih dari 40 derajat sudah menjadi kifosis atau bungkuk udang). Selain itu, otot-otot pada punggung atas akan menjadi tegang dan seperti otot rhomboid cenderung bekerja lebih keras dan mudah mengalami kelemahan. Otot pinggang juga mengalami kelelahan dan ketegangan, biasanya otot quadratus lumborum menjadi nyeri dan erector spine menjadi tidak seimbang.


Baiklah, jika kita selalu saja merasa tidak nyaman duduk tegak dengan menenggakan punggung sehingga tampak duduk tegak, marilah kita rubah sikap ini. 
Duduk yang tepat dan baik sangatlah mudah dan sederhana dilakukan. Sendi panggul bagaikan sebuah kapal, jika ia berotasi ke depan terlalu berlebihan maka postur menjadi hiperlordosis lumbal ( postur pantat bebek), jika berotasi ke belakang berlebigan akan menjadi bungkuk udang. Pola gerak pada sendi panggul adalah kunci duduk yang tepat.
Panggul merupakan persambungan sendi besar yang berisikan rongga perut, perkemihan, dan reproduksi. Pada bagian belakang terdapat tulang ekor yang menjadi bagian ujung dari sendi panggul. Tulang ekor inilah yang dapat mempengaruhi kualitas duduk.



Duduk yang baik cukup dengan duduk pada tulang ekor. Cara memposisikan duduk, rabalah tulang ekor pada ujung panggul belakang,  saat duduk, duduklah pada tulang ekor tersebut, otomatis otot-otot pada tulang belakang akan terasa lebih rileks menjaga postur duduk, sedangkan tungkai bawah berada pada sudut 90 derajat. Jika kursi duduk terlalu tinggi, ambillah ganjalan untuk menambah ketinggian kaki sehingga tungkai bawah 90 derajat. Posisi duduk di tulang ekor dan tungkai pada posisi 90 derajat akan memberikan kualitas duduk yang lebih rileks dan nyaman. Pilih juga kursi duduk yang ergonomis untuk bekerja. Tentu saja, duduk yang baik juga ada baiknya diselingi dengan berdiri dan berjalan setelah duduk selama 3 jam untuk menjaga kesehatan tubuh.

Mulai sekarang marilah duduk dengan baik dan tepat. 


Semoga bermanfaat..

*sumber gambar dari berbagai pencarian dari google. 

Saturday, 14 July 2018

Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang dimana terjadi deviasi atau kemiringan kurva tulang belakang bentuk C atau S. Biasanya ruas tulang belakang yang sering mengalami kemiringan yaitu thoraco-lumbar seperti terlihat pada gambar berikut

Penyebab scoliosis itu sendiri yaitu
1. Kelainan tulang belakang scoliosis sejak lahir atau kelainan bawaan
2. Scoliosis didapat dari kesalahan sikap postur tubuh
3. Kelainan neurologis (kelainan pada otak yang mempengaruhi saraf dan otot di tulang belakang)
4. Cidera pada tulang belakang
5. Nyeri pinggang atau panggul yang mempengaruhi bentuk postur
6. Kelainan panjang tungkai yang berbeda

Pemeriksaan scoliosis dapat dilakukan dengan

1. Pemeriksaan Foto X-Ray atau MRI


2. Inspeksi dan pengukuran postur




Akibat dari scoliosis

1. Terjadi pemendekan otot-otot pada daerah yang cekung
2. Terjadi pemanjangan/ penguluran otot-otot pada daerah yang cembung
3. Terjadi ketidakseimbangan otot
4. Kelemahan pada otot-otot sisi yang cembung dan ketegangan pada otot-otot sisi yang cekung
5. Penguncian sendi pada sisi yang cekung dan terjadi peregangan sendi pada sisi yang cembung
6. Penekanan organ paru-paru dan organ internal pada sisi yang cekung

Scoliosis dengan penyimpangan sudut kurang dari 30 derajat dapat dilakukan koreksi secara konservatif yaitu berupa latihan dan pemakaian korset khusus korektif pada scoliosis. Sedangkan untuk penyimpangan lebih dari 30 derajat dianjurkan untuk melakukan operasi.

Scoliosis dengan operasi korektif pada kurva dengan penyimpangan lebih dari 30 derajat


Scoliosis yang dapat dikoreksi secara konservatif yaitu penyimpangan kurva kurang dari 30 derajat dengna brace scoliosis



Berikut latihan untuk korektif kurva scoliosis tipe S

1. Hanging Exercise
 Berdiri bergantungan pada papan gantung selama 5 menit dengan repetisi 3-5 kali latihan. Atur irama pernapasan saat melakukan latihan ini.


2. Plank exercise 1
Posisikan tubuh seperti pada gambar. Atur posisi bokong sejajar punggung. Bagian pinggang lurus tidak menyekung. Lakukan tahanan gerak ini selama 30 detik-1 menit dengan repetisi 3-5 kali. Atur pernapasan saat melakukan gerakan ini.
3.  Plank exercise 2
Posisikan tubuh seperti pada gambar. Atur posisi bokong sejajar punggung. Bagian pinggang lurus tidak menyekung. Lakukan tahanan gerak ini selama 30 detik-1 menit dengan repetisi 3-5 kali. Atur pernapasan saat melakukan gerakan ini.


4. Reach exercise
Posisikan tubuh seperti pada gambar. Lakukan tarikan lengan lurus ke depan sejauh mungkin. Atur pernapasan. Tahanan gerakan ini selama 10 detik dengan repetisi 10 kali dalam 3 set latihan.

5. Straight Posture with Dumble

Posisikan tubuh duduk tegak dengan kedua dumble seberat masing-masing 1kg pada tangan. Angkat kedua dumble ke atas dan ke bawah sebanyak 10 kali pengulangan dan dilakukan sebanyak 3 set

Demikianlah beberapa latihan sederhana dan bermanfaat untuk koreksi postur S pada scoliosis. Lakukanlah kelima latihan ini dengan rutin 4 kali seminggu selama 2 tahun. Kenapa harus melakukan latihan ini selama 2 tahun? pada dasarnya perbaikan postur dengan latihan yang tepat memerlukan jangka waktu yang tepat untuk meng-edukasi otot-otot postur dan melatih kebugaran tubuh. Tercapainya postur tubuh yang normal memerlukan kerja keras. Bila dilakukan dengan baik maka hasilnya akan positif. Selain itu, latihan ini juga baik untuk kesadaran postur dan mencegah penyimpangan derajat kurva yang lebih buruk. 


sumber gambar dari pencarian google dari berbagai artikel.



Tuesday, 10 July 2018

Penggunaan smartphone pada era teknologi komunikasi yang berkembang pesat ini telah menjadi kebutuhan pokok bagi setiap orang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi yang pertama kali dan terakhir dicari adalah smartphone. Kini, berkirim pesan tidak hanya melalui sms saja, kita sudah bisa chatting di aplikasi yang tersedia di smartphone. Selain itu banyaknya aplikasi game online maupun offline dalam smartphone menjadikan seseorang aktif menggerakkan kedua jempol tangannya.


Smarthphone sudah menjadi gaya hidup. Berbagai macam aplikasi dan kemudahan yang tersedia didukung oleh jaringan internet mulai dari 2D, 3G, 4G, dan 5G, membuat seseorang menjadi sangat bergantung dengan smarthphonenya. Seperti yang kita ketahui mengetik pesan, bermain game, dan sebagainya pada smarthphone akan selalu menggunakan jempol tangan. Tentu saja ada dampak buruk yang bisa terjadi jika kita terlalu berlebihan menggunakan smarthphone yaitu terjadi cidera pada tendon kecil pada jempol tangan yang mengakibatkan jempol terasa nyeri, kaku, dan ketika ditekuk san diluruskan akan terjadi bunyi klik yang disertai nyeri tak tertahankan. Inilah yang disebut dengan thumb syndrome atau de quervain syndrome.



Apa itu thumb syndrome atau de quervain syndrome?

DeQuervain's Tenosynovitis adalah peradangan selubung tendon (disebut Synovium) pada bagian dasar ibu jari. Tendon yang menggerakkan ibu jari menjadi terbatas dalam tunnel (terowongan) yang sempit. Peradangan berasal dari gesekan yang ditimbulkan saat tendon menggelincir di sepanjang ibu jari dengan gerakan yang berulang-ulang.

Peradangan yang timbul akan menyebabkan nyeri dan peradangan yang kronis akan memicu penebalan pada tendon yang menyebabkan kekakuan dari jempol jika ditekuk dan diluruskan yang menimbulkan nyeri tajam disertai bunyi dan bengkak. Selain itu, thumb syndrome ini juga terjadi pada ibu yang sedang hamil dan atau menyusui.

Lalu bagaimana mencegah thumb syndrome ini?
1. Kurangi menggunakan smartphone berlebihan untuk bermain game dan mengetik pesan
2. Tidak menopang benda terlalu lama dengan tahanan jempol

Untuk pengobatan pada thumb syndrome ini dapat dilakukan dengan injeksi steroid oleh dokter spesialis orthopedi dan dengan treatment fisioterapi.
Sudut pandang fisioterapi pada thumb syndrome ini yaitu
-terjadinya kelemahan pada otot ibu jari
-gangguan gerak dan fungsi ibu jari untuk beraktifitas fungsional

Untuk mengurangi iritasi dan peregangan pada tendon jempol yaitu dengan splint jempol seperti gambar berikut


Jika keluhan semakin memburuk segera mengunjungi dokter untuk penanganan lebih tepat.



Total Pageviews

Search

Informasi

Jika Anda membutuhkan konsultasi terkait fisioterapi silahkan menghubungi melalui email physio.yuli@gmail.com

Artikel Populer